Facebook jadi media narsisme
Mungkin sebagian besar yang membaca postingan ini bakalan punya argumen
“sok tahu ..”
“siapa yang narsis???”
“banyak ngomong .”
saya rasa itu sah-sah aja.. tapi saya hanya mau mengutarakan pemikiran saya tentang hal ini.
Hal ini sesuai dengan nature aplikasi jejaring sosial sejenis facebook, Teknologi Web 2.0, UGC (User Generated Centent), 95% — menurut saya, dan ngga tahu juga dari mana datangnya angka ini
— berupa content yang berhubungan langsung dengan profil atau informasi tentang usernya… its obvious..
Saya tidak mau menjadi seorang yang munafik, saya juga seorang pengguna facebook tp bukan berarti saya orangnya narsis ya.. :D, karena “facebook jadi media narsisme” berbeda dengan ”pengguna facebook itu narsis”, tidak bisa dipungkiri facebook juga punya peranan penting dalam hal-hal yang menurut saya sangat positif, contohnya gerakan 1.000.000 facebooker untuk gerakan xxx (masalah prita, perpajakan, dll).
Kembali ke “laptop”. Besarnya keinginan orang untuk meng-expose informasi pribadi di situs jejaring sosial – twitter, facebook, friendster, dll – juga telah dimanfaatkan oleh seorang atau perusahaan yang membuat aplikasi web yang memberikan informasi keberadaan seseorang (sedang berada di rumah atau tidak) berdasarkan informasi yang di publish di situs jejaring sosial (lupa pula aku situsnya :D). Hal ini bisa dijadikan bukti besarnya keinginan orang untuk meng-expose dirinya di facebook dkk bisa dimanfaatkan pihak lain untuk keperluan tertentu.
Tidak bisa dipungkiri juga, banyak hal-hal lucu yang ada di-facebook ketika seseorang mepublish sesuatu yang lucu, kita jadi ketawa dan stress pun hilang, bahkan kelucuan “kebodohan” seseorang bisa terlihat dari status-nya di facebook, kadang-kadang orang yang seharusnya pintar, punya wawasan luas, terpandang justru menunjukkan sesuatu yang bodoh.. yang ujung-ujungnya di gunakan juga oleh sebuah situs contohnya lamebook.com yang memiliki rating tinggi hanya dengan mem-post funny, lame facebook statuses.
ini contohnya, numpang copot dari blognya om roy ngga ada suryo-nya
Intinya, hendaklah kita bijak dalam menggunakan situs jejaring sosial, terlebih dalam memberikan opini atau kritik terhadap orang lain – klo mau narsis dan expose diri sendiri itu urusan sendiri – kemudahan untuk memberikan opini di facebook dan langsung mendapatkan respon dari orang banyak kadang-kadang “mulumpuhkan” kemampuan seseorang untuk mem-filter informasi yang akan dipublish.
jadi kata orang tua (umpasa batak) “jolo ni dilat bibir asa di dok hata” – pikir-pikir dulu baik-baik baru ngomong – jadi cenderung tidak berlaku di “era facebook twitter dkk” ini..
tapi apakan harus seperti itu?






ini nih umpasa bagus: “jolo ni dilat bibir asa di dok hata”
Reply
hahahah, suka-suka yang punya lah mau narsis kek mau tampil bodoh keq (kadang kategori yang ini yang dianggap “menghibur”).. asal gak nyenggol anak mudanya, gak papa
Reply
^
setubuh, eh setuju dengan bang nich ‘pake ch’
Reply
Reply