Archive

Archive for August, 2009

Aku Batak

August 21st, 2009

“AKU BATAK” mungkin sebuah ucapan yang terkesan menyombongkan diri sebagai seorang suku batak, yang ujung-ujungnya ada unsur SARA-nya. Aku memandangnya dari sudut pendang yang berbeda. Aku bangga jadi orang batak, bukan berarti aku menyombongkan diri jadi suku batak.

jadi, kenapa?

Saya rasa hal seperti ini sangat penting sekarang ini dimana generasi muda sekarang cenderung sudah mengalami degradasi pengetahuan akan budaya, sukunya, atau pengetahuan akan asal-usulnya. Banyak ahli yang mengatakan bahwa hal ini dipengaruhi oleh budaya asing/barat/negara lain, yang cenderung lebih “menarik” untuk dilakoni. Benar, saya setuju.. tetapi menurut saya hal ini juga dipicu oleh suatu hal yang kita anggap sepele. Read more…

Scrapbook, when i think outloud ,

Tujuh belas agustus-an ku

August 17th, 2009

Dirgahayu indonesiaku, sudah 64 tahun sejak Bung Karno membacakan proklamasi menandakan kemerdekaan indonesia. MERDEKA..

Hari kemerdekaan kali ini pastinya memiliki nilai-nilai tersendiri bagi setiap rakyat indonesia. Ada yang membahas tiang berminyak (red: panjat pinang) dan hubungannya dengan semangat membangun bangsa indonesia, ada yang curhatan upacara bendera dan hubungannya dengan semangat nasionalisme, ada lagi si ganteng yang membahas curahatan upacara bendera yang ternyata si hidung belang… dan banyak lagi.

Read more…

Scrapbook , ,

Apakah bangsa ini masih waras?

August 6th, 2009

Ku awali dengan tertawa.. ha.ha.ha.ha.ha..

bukan berarti senang, bukan berarti sedih juga.. bingung.

Ditengah kesibukan tak menentu, tak tertahankan juga keinginan untuk menuliskan hal ini.

Sekarang (disaat postingan ini dibuat) saya tergoda ikut menonton siaran “favorit” teman saya. Acaranya Curhat di channel TP* dan Masihkah Kau Mencitaiku di RCT*. Kedua acara TV itu memiliki tema yang sama, menurut saya.. “Mempertontonkan Aib Keluarga” menjadikan masalah keluarga jadi tontonan umum, menjadi bahan tertawaan (red: terus terang aja, saya juga ketawa nontonnya, dimana seharusnya tidak). Terlepas apakah acara tersebut mengangkat sebuah masalah  yang sebenarnya (bukan rekayasa) atau tidak, tetap saja intinya adalah seperti yang saya sebutkan diatas.

Apakah acara tersebut masih waras? apakah media di indonesia masih memiliki kewarasan?. Sama seperti cerita sikawan ketika Cerita lebih berharga daripada nyawa. Media mengobral sebuah cerita tanpa (menurut saya) mempertimbangkan dampak dari cerita tersebut bagi masyarakat, yang penting adalah membuat sesuatu yang menjual. Kadang-kadang saya jadi merindukan masa-masa dulu ketika TVRI menjadi “channel wajib”, dengan panggung hiburan anak-anaknya, dengan acara kelompencapir-nya, dengan acara si-unyil nya, dan masih banyak lagi.

ohh iya. satu lagi yang mengusik saya, ketika UU Pornografi menjadi isu yang hangat, saya pernah menonton acara di channel TP* bertemakan, kirim SMS untuk menjawab pertanayaan yang dipandu oleh cewek seksi, berpakaian tak sewajarnya, agghh.. bukannya saya munafik, terus terang saya juga hmm… ya tertarik juga, tetapi kalau dipikir lebih jauh, kewarasan statsiun TiVi indonesia ini sudah di ambang batas kegilaan.. menjual acara yang tidak mendidik, pembodohan masyarakat… aggghhhhh….

Ujung-ujungnya bangsa ini sudah tak waras lagi karena menjadi “pembeli” yang baik atas jualan yang disajikan oleh penyedia jasa hiburan kita.

apakah anda masih waras? apa channel favorit anda? apa siaran favorit anda? anda pengemar sinetron? (aiiikkgggghh) klo iya, baca dulu celoteh sikawan ketika Film horror lebih mendidik daripada sinetron

sekian dululah.. saya mo nonton lagi acara ini.. sudah makin tak waras kulihat.. hihihihi..

Scrapbook, when i think outloud